Berita terkini Jawa Timur BNPB Semarang Kumpulkan Dana Bantuan Guna Korban Longsor Ponorogo

Misi para petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Semarang Selasa pagi. Mereka edarkan kotak sumbangan di lingkungan sekretariat daerah Kabupaten Semarang untuk bersimpati atas korban tanah longsor di Ponorogo Jawa Timur. Aksi ini di sambut positif para PNS. Dana yang terkumpul sementara lebih dari 2 juta rupiah, nantinya seluruh dana akan di salurkan melalui BPBD Provinsi Jawa Tengah. Mereka berharap aksi ini bisa membantu meringankan penderitaan korban longsor di Ponorogo.

"untuk pertama ini tujuan pertama di lingkungan serda sementara di lingkungan serda ini dan kominfo kita memperoleh 2.076.000 penggalangan dana ini donasi ini nanti akan kita salurkan sepenuhnya keseluruhan ke Kabupaten Ponorogo melalui BPBD Provinsi Jawa tengah" ujar Heru Subroto Kepala BPBD Kabupaten Semarang.

Sementara di Ponorogo Tari Topeng di peragakan oleh siswa sekolah dasar Negeri Triwunglor 3 kota Probolinggo senin pagi. Atraksi tari ini di lakukan sebagai aksi keprihatinan atas longsor yang terjadi di Desa Banaran Ponorogo. Selain Tari Topeng siswa dan guru juga ikut menyumbangkan puisi bagi korban longsor. Setelah aksi seni beberapa siswa mengumpulkan dana bantuan dari seluruh siswa dan guru SD.

Selain untuk membantu warga yang kesusahan aksi ini juga berguna untuk menumbuhkan rasa empati pada diri siswa, seluruh hasil penggalangan dana ini akan di salurkan melalui pos bantuan yang ada di kota Probolinggo.

Sementara itu suasana di salah satu pengungsian korban terdampaki longsor di Desa Banaran Ponorogo Jawa Timur Selasa Siang. mereka mengungsi di rumah Kepala Desa Banaran. Luas rumah ini hanya sekitar 60 meter persegi dengan daya tampung 50 orang. Namun pengungsian ini di isi hingga 178 warga yang terdampaki longsor. Meski berdesakan mereka memilih mengungsi di sini di bandingkan tempat pengungsian yang di sediakan pemerintah karena masih merasa ada hubungan kekerabatan. Warga membutuhkan bantuan berupa alas tidur hingga perlengkapan ibadah.

"yang dibutuhkan sekarang adalah alas tidur sama peralatan ibadah. Kalau masalah peralatan kesehatan sudah cukup ada dokter ada dari Dinas Kesehatan sudah ada" ucap Murti'ah Pengungsi.

Berbeda halnya dengan pengungsian di salah satu rumah warga lainnya di dusun Tangkil. Di sini terdapat sembilan kepala keluarga yang terdiri dari 32 jiwa. Meski tidak berdesakan di sini aliran listrik masih padam.

"kalau malam tidak ada lampu karena listriknya tidak bisa menyala terus kondisi kesehatannya ada yang pusing-pusing, mual kalau obat ada di beri dari pihak pemerintah" kata Umi Nurjanah Pengungsi.

Akibat longsor Ponorogo puluhan rumah warga yang tidak terdampaki longsor di gunakan untuk menampung warga yang selamat. Mereka masih trauma untuk kembali ke desanya.

referensi